
Amerika Serikat kembali menerapkan tarif impor yang signifikan bagi negara mitra dagangnya, termasuk Indonesia. Kebijakan ini bukan hanya soal angka, tapi berdampak langsung pada perekonomian nasional hingga penghidupan petani lokal. Bagaimana Indonesia harus menyikapinya?
Kebijakan proteksionis Amerika Serikat yang diberlakukan mulai April 2025 terhadap beberapa negara memberikan guncangan yang luar biasa di pasar global. Amerika Serikat mengadopsi kebijakan America First Trade Policy yang diterapkan oleh Trump untuk mengurangi defisit neraca perdagangan Amerika Serikat dan memperketat perdagangannya untuk memperkuat ekonomi dalam negeri. Kebijakan ini bertujuan untuk melindungi industri dalam negerinya dan mengurangi ketergantungan negara tersebut terhadap negara lain (The White House, 2025).
Apa Itu Tarif Timbal Balik dan Mengapa AS Memberlakukannya?
Tarif timbal balik yang diambil oleh Amerika Serikat merupakan kebijakan berupa pengenaan bea ad valorem tambahan pada semua impor mitra dagang mereka. Amerika Serikat memberlakukan kebijakan America First dinilai karena selama puluhan tahun mereka mengalami kerugian akibat perdagangan yang tidak seimbang dengan negara lain. Dikutip dari laman resmi White House mengenai Laporan kepada Presiden tentang Kebijakan Perdagangan Amerika First pada 3 April 2025, disebutkan bahwa banyak negara mengenakan tarif yang lebih tinggi pada ekspor AS daripada yang dikenakan AS pada impor dari negara-negara tersebut. Hal tersebut menyebabkan produk impor lebih kompetitif dibanding dengan produk Amerika Serikat itu sendiri.
China merupakan salah satu negara yang merasakan dampak begitu besar atas diberlakukannya kebijakan ini karena defisit perdagangan AS terhadap China sangat besar. Namun, kebijakan ini juga memiliki efek meluas karena kebijakan ini juga berlaku untuk negara-negara mitra dagang Amerika Serikat yang lain, salah satunya Indonesia. Indonesia dikenakan bea ad valorem tambahan sebesar 32% (The White House, 2025). Negara berkembang seperti Indonesia dihadapkan pada situasi yang mengharuskan dilakukannya penyesuaian strategi untuk menghadapi tantangan semacam ini. Imbas di tingkat makro cukup memberikan gambaran betapa pentingnya ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi gejolak dari luar. Tak hanya ekonomi di tingkat makro, korban lainnya adalah para petani, meskipun tidak selalu berada di garis depan pembicaraan tarif dagang tetapi justru menjadi salah satu yang paling rentan. Sektor pertanian kaitannya dengan produk pertanian yang bergantung pada pasar ekspor ketika dihadapkan dengan kebijakan ini maka akan mengalami tekanan dan permintaan pasar internasional akan turun. Lebih jauh lagi, tarif AS terhadap produk tertentu misalnya biofuel dan minyak nabati dari kelapa sawit berdampak langsung pada petani sawit. Harga tandan buah segar bisa turun tajam karena perubahan kebijakan yang letaknya bahkan ribuan kilometer jauhnya.
Dampak pada Ekonomi Makro Indonesia
Amerika Serikat merupakan salah satu negara tujuan ekspor utama Indonesia. Badan Pusat Statistik pada Buletin Statistik Perdagangan Luar Negeri tahun 2025 melaporkan bahwa di tahun 2023-2024 Amerika Serikat menempati urutan tertinggi ke-3 dari daftar ekspor Indonesia menurut negara tujuan utama setelah China dan Jepang. Tarif yang lebih tinggi akan menyebabkan peningkatan beban biaya eksportir yang pada akhirnya dipikul oleh konsumen AS atau memotong margin eksportir sehingga menurunkan daya saing produk Indonesia di pasar AS. Hal tersebut lagi-lagi menggambarkan teori yang ada dalam ekonomi makro ketika ekspor menurun terus-menerus maka akan berpengaruh pada keseimbangan neraca perdagangan. Laporan dari Badan Pusat Statistik pada 2 Juni 2025 menyebutkan bahwa neraca perdagangan Indonesia masih mencatat kinerja positif dengan surplus secara total sebesar US$11,07 miliar sepanjang periode Januari-April 2025. Namun, apabila tren kenaikan impor terus berlanjut tanpa diimbangi dengan penguatan ekspor dan harga komoditas ekspor tidak membaik, maka potensi defisit neraca perdagangan akan tetap terbuka.
Dilansir dari kompas.id, 2025, kebijakan ini juga memicu gejolak nilai tukar dimana Rupiah sempat terdepresiasi ke Rp17.217/USD pada April 2025. Tarif yang tinggi menyebabkan harga produk Indonesia naik drastis sehingga memperlemah permintaan terhadap Rupiah. Depresiasi Rupiah ini berpotensi meningkatkan inflasi akibat adanya peningkatan biaya impor bahan baku dan barang modal yang berujung pada turunnya daya beli masyarakat. Kebijakan tarif ini tak hanya berdampak langsung pada ekspor Indonesia ke Amerika Serikat tetapi juga menimbulkan efek makroekonomi yang lebih luas termasuk tantangan bagi iklim investasi dan pertumbuhan ekonomi nasional.
Dampak ke Sektor Pertanian
Sejak 2 April 2025, pemerintah Amerika Serikat telah menetapkan tarif sebesar 32% yang berdampak cukup besar pada sektor pertanian termasuk karet, minyak sawit, kopi, dan juga udang. Dalam jangka pendek, tarif timbal balik dapat menyebabkan terganggunya perdagangan, meningkatkan biaya, dan juga terjadinya tekanan inflasi. Dalam jangka panjang, Indonesia mungkin akan mempercepat diversifikasi ekspor dan reformasi struktural untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS dan meningkatkan daya saing. Kebijakan ini juga dapat memberikan efek bagi petani dan juga rantai pasok jika terjadi penurunan ekspor (Economic Bulletin, 2025). Dikutip dari idntimes.com, 2025, Penurunan ekspor dapat menyebabkan harga dari suatu komoditas agrikultur lokal akan mengalami penurunan secara signifikan. Efek yang nantinya akan dirasakan secara tidak langsung adalah produk-produk yang tidak diekspor terpaksa harus masuk kembali ke pasar domestik. Hal tersebut menciptakan adanya kelebihan pasokan atau oversupply barang yang ada di dalam negeri. Kondisi ini pada akhirnya mendorong perusahaan untuk menaikkan harga akibat meningkatnya biaya penyimpanan yang pada akhirnya menimbulkan kerugian pada sektor agrikultur. Dilansir dari kompas.com, 2025, Ketua Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS), Mansuetus Darto, mengatakan bahwa eksportir CPO atau minyak sawit mentah yang terkena dampak tarif AS terpaksa harus menahan stok yang menyebabkan pabrik pengolahan terpaksa menurunkan volume pembelian Tandan Buah Segar (TBS) dari petani kecil.
Apakah Indonesia Membalas? Strategi Menghadapi Tarif AS
Indonesia memang tidak melakukan pembalasan tarif ke Amerika Serikat tetapi Indonesia memiliki strategi diplomasi ekonomi yang pragmatis dengan cara bernegosiasi daripada membalas aksi yang dilakukan oleh Amerika Serikat. Dikutip dari Reuters.com, 2025, Pemerintah telah mengirimkan utusan yaitu Airlangga Hartarto, kepala delegasi, dan menteri keuangan Sri Mulyani Indrawati untuk merundingkan usulan tarif 32% yang akan diberlakukan Amerika Serikat terhadap Indonesia. Dalam melakukan negosiasi ini, Indonesia berfokus pada penguatan hubungan bilateral dengan Amerika Serikat dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional. Indonesia juga menawarkan untuk meningkatkan impor Amerika Serikat sebanyak $19 miliar, termasuk sekitar $10 miliar impor energi, untuk menghilangkan surplus perdagangannya. Indonesia juga berencana membeli produk pertanian termasuk gandum, kedelai, dan minyak mentah. Selain itu, Indonesia juga melakukan diversifikasi pasar ekspor yaitu salah satunya dengan Uni Eropa (UE) dimana penyelesaian perundingan dengan Uni Eropa merupakan bukti konkret strategi diversifikasi yang membuka akses pasar yang lebih luas. Hal tersebut menjadi salah satu strategi di tengah ketidakpastian akses pasar ke AS akibat tarif yang tinggi. Indonesia mendapatkan tarif 0 untuk 80% produk ekspornya ke UE dan akan menghapus hambatan non-tarif karena mendorong pasar yang lebih besar untuk kelapa sawit dan produk perikanan (reuters.com, 2025).
Selain melakukan negosiasi, Indonesia juga berusaha untuk menguatkan industri dalam negeri melalui sektor hilir dengan cara mengeluarkan aturan baru terkait tingkat komponen dalam negeri (TKDN). Hal ini memungkinkan pemerintah untuk memprioritaskan pembelian barang dan jasa yang mengandung minimal 25% komponen lokal dan bobot manfaat perusahaan minimal 40% (Ekonomi.bisnis.com, 2025). Aturan ini mendorong penguatan rantai pasok dan nilai tambah dalam negeri yang menjadi salah satu strategi yang penting dalam menghadapi tekanan tarif AS. Strategi hilirisasi pertanian juga menjadi upaya dalam memperkuat ekosistem agroindustri yang dapat mengurangi risiko ketergantungan pada pasar AS. Dikutip dari Iseijogja.org.com, 2024, output dari hilirisasi pertanian dapat meningkatkan persentase output terhadap sektor agroindustri melalui peningkatan tenaga kerja dan kestabilan harga. Selain itu, hilirisasi pertanian memang perlu untuk ditingkatkan karena tidak hanya meningkatkan nilai tambah produksi pertanian, tetapi juga mempercepat pengentasan kemiskinan di pedesaan. Lebih jauh, negara juga dapat mendorong adanya hilirisasi ini dengan ikut berkomitmen dalam memperbaiki infrastruktur ekspor dan logistik melalui interkoneksi nasional, pelabuhan digital, dan juga regulasi non tarif yang mendukung daya saing serta dapat menjadi salah satu strategi dalam mengatasi hambatan perdagangan internasional (ipb.ac.id, 2025).
Kesimpulan: Pelajaran dari Tarif AS
Tarif impor yang diberlakukan AS terlihat sebagai kebijakan yang melindungi pasar domestik mereka, tetapi efeknya terasa hingga ke ladang petani di Indonesia. Indonesia mengambil langkah-langkah termasuk deregulasi melalui negosiasi, diversifikasi pasar ekspor, dan juga penguatan sektor hilir dan ketahanan dalam negeri. Upaya-upaya tersebut bukan hanya untuk mengatasi tekanan tarif tetapi juga untuk mengurangi ketergantungan pada satu negara, meningkatkan daya saing produk lokal, serta menguatkan sektor hilir khususnya sektor pertanian yang merupakan salah satu sektor vital perekonomian nasional. Hal tersebut menjadi pengingat bahwa penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional dalam menghadapi tantangan eksternal dan penting untuk menjaga sektor pertanian agar dapat lebih tangguh dalam menghadapi tantangan global.
Referensi:
Badan Pusat Statistik. 2025. Buletin Statistik Luar Negeri Ekspor menurut Kelompok Komoditas dan Negara, November 2024. Badan Pusat Statistik, Jakarta.
Badan Pusat Statistik. 2025. Neraca Perdagangan Tetap Surplus. https://www.bps.go.id/id/news/2025/06/02/704/neraca-perdagangan-tetap-surplus.html. Diakses pada tanggal 21 Juni 2025.
Economic Bulletin. 2025. Trump’s “Reciprocal Tariffs”: Global Trade Shock and Implications for Indonesia. IFG PROGRESS: 1-20.
Ekonomi Bisnis. 2025. Prabowo Revisi Aturan TKDN untuk Belanja Pemerintah/BUMN jadi Minimal 25%. https://ekonomi.bisnis.com/read/20250507/257/1875038/prabowo-revisi-aturan-tkdn-untuk-belanja-pemerintahbumn-jadi-minimal-25. Diakses pada tanggal 22 Juni 2025.
IDN TIMES. 2025. KPPU ungkap 4 ancaman buat dunia usaha di RI imbas tarif AS. https://www.idntimes.com/business/economy/kppu-ungkap-4-ancaman-buat-dunia-usaha-di-ri-imbas-tarif-as-00-bvq5c-24hrx1. Diakses 22 Juni 2025.
ISEI JOGJA. 2024. Strategi Hilirisasi Pertanian dan Ketahanan Pangan di Jawa. https://www.krjogja.com/bisnis/1245337061/strategi-hilirisasi-pertanian-dan-ketahanan-pangan-di-jawa. Diakses pada tanggal 23 Juni 2025.
IPB University. Para Pakar IPB University Bicara Strategi Hilirisasi Pertanian: Kunci Industrialisasi Ekonomi Indonesia. https://www.ipb.ac.id/news/index/2025/02/para-pakar-ipb-university-bicara-strategi-hilirisasi-pertanian-kunci-reindustrialisasi-ekonomi-indonesia/. Diakses pada tanggal 23 Juli 2025.
Redaksi Kompas. 2025. Memahami Dampak Kebijakan Tarif Trump terhadap Perekonomian Indonesia. https://www.kompas.id/artikel/memahami-dampak-kebijakan-tarif-trump-terhadap-perekonomian-indonesia. Diakses pada tanggal 21 Juni 2025.
Redaksi Kompas. 2025. Serikat Petani Sawit: Kebijakan Tarif Trump Bakal Gerus Ekspor ke AS. https://lestari.kompas.com/read/2025/04/09/114500186/serikat-petani-sawit–kebijakan-tarif-trump-bakal-gerus-ekspor-ke-as-. Diakses pada tanggal 26 Juni 2025.
Reuters. 2025. Indonesia’s palm oil groups urge levy cuts to offset US tariff impact. https://www.reuters.com/markets/commodities/indonesias-palm-oil-groups-urge-levy-cuts-offset-us-tariff-impact-2025-04-09/. Diakses pada tanggal 22 Juni 2025.
Reuters. 2025. Indonesia wants ‘fair and square’ trade in US tariff talks. https://www.reuters.com/markets/asia/indonesia-is-putting-forward-national-interest-us-tariffs-negotiation-minister-2025-04-25/. Diakses 22 Juni 2025.
Reuters. 2025. Indonesia says to increase US imports, lower orders from other countries. https://www.reuters.com/world/asia-pacific/indonesia-says-increase-us-imports-would-divert-orders-elsewhere-2025-04-18/. Diakses 22 Juni 2025.
Reuters. 2025. Indonesia expects to conclude free trade talks with EU by end of June. https://www.reuters.com/markets/commodities/indonesia-expects-conclude-free-trade-talks-with-eu-by-end-june-2025-06-07/. Diakses 22 Juni 2025.
The White House. 2025. Regulating Imports with a Reciprocal Tariff to Rectify Trade Practices that Contribute to Large and Persistent Annual United States Goods Trade Deficits. https://www.whitehouse.gov/presidential-actions/2025/04/regulating-imports-with-a-reciprocal-tariff-to-rectify-trade-practices-that-contribute-to-large-and-persistent-annual-united-states-goods-trade-deficits/. Diakses pada tanggal 21 Juni 2025.
The White House. 2025. Report to the President on the America First Trade Policy Executive Summary https://www.whitehouse.gov/fact-sheets/2025/04/report-to-the-president-on-the-america-first-trade-policy-executive-summary/. Diakses pada tanggal 21 Juni 2025.
Penulis:
Niswatin Fadillah H. & Eka Vera M.